Darah sendiri terbagi menjadi dua bagian, cairan dan padat. Bagian yang terbuat dari cairan disebut dengan istilah plasma. Lebih dari setengah bagian darah merupakan plasma. Plasma terdiri dari air, protein, dan garam. Sedangkan bagian yang padat dari darah mengandung sel darah merah, sel darah putih, dan platelet (trombosit).Kelainan darah ini sendiri akan berdampak kepada bagian-bagian dari darah tersebut, seperti sel darah merah (mengangkut oksigen ke jaringan tubuh), sel darah putih (bertugas melawan infeksi), platelet (bertugas membantu membentuk bekuan darah), dan plasma. Pengobatan serta prediksi perjalanan penyakit sangat bergantung kepada tingkat keparahan dan kondisi sel-sel darah itu sendiri.
1. Kelainan pada sel Leukosit
Peningkatan jumlah leukosit muda dalam darah tepi. Misalnya peningkatan jumlah netrofil batang > 10 % dalam darah tepi.
2. NETROFILIA
Peningkatan jumlah neutrofil dalam darah tepi lebih dari normal, ini bisa disebabkan :
– Infeksi akut contoh : radang paru, pneumonia, meningitis
– Infeksi lokal yang disertai dengan produksi dan penimbunan nanah
– Intoksikasi, missal pada zat-zat kimia, uremia.
– Selain itu ada juga Netrofilia Fisiologik yang disebabkan oleh olah raga yang berlebihan, stress, ini disebut juga Pseudonetrofilia.
3. EOSINOFILIA
Peningkatan jumlah eosinofil dalam darah tepi, ditemukan pada :
– Penyakit alergi (Urticaria, Asthma bronchiale).
– Infeksi parasit misal pada : Schistosomiasis, Trichinosis, Cacing tambang)
– Sesudah penyinaran
– Hodgkin’s disease, Poli arthritis nodosa,dll
– Keganasan, penyakit kulit misal Eksim
4. BASOFILIA
Peningkatan jumlah basofil dalam darah, ditemukan pada :
– Infeksi oleh virus (Smallpox, Chickenpox)
– Kadang-kadang sesudah Spleenektomi, Anemia hemolitik kronis
5. MONOSITOSIS
Peningkatan jumlah monosit dalam darah, ditemukan pada :
– Infeksi Basil (TBC, Endocarditis sub akut)
– Infeksi Protozoa (Malaria, dysentri amoeba kronik)
– Hodgkin’s disease, Artritis Rheumatoid
6. LIMPOSITOSIS
Peningkatan jumlah limposit dalam darah, ditemukan pada :
– Infeksi akut (Pertusis, hepatitis, Mononucleusis infeksiosa) dan Infeksi menahun
– Pada infant (bayi dan anak-anak)
– Radang kronis misal Kolitis Ulseratif
– Kelainan metabolic (Hipertiroidisme)
7. NEUTROPENIA
Penurunan jumlah netrofil dalam darah tepi, penyebabnya :
– Penyakit infeksi
– Demam thypoid, Hepatitis, Influenza, campak, malaria, juga tiap jenis infeksi akut.
– Bahan kimia dan fisika misal pada radiasi dan obat, Hiperspleenisme, penyakit hati.
8. LIMFOPENIA
Penurunan jumlah limposit dalam darah tepi, penyebab :
– Kematian kortikosteroid misalnya akibat terapi dengan obat Steroid.
– Penyakit berat misal : Gagal jantung, gagal ginjal, TBC berat.
9. AGRANULOSITOSIS
Menghilangnya granulosit dalam darah tepi secara mendadak pada seseorang yang sebelumnya normal. Pada agranulositosis yang umum jumlah leukosit rendah dan limposit matang merupakan satu-satunya jenis leukosit yang ada dalam darah tepi.
Penyebabnya : Penyakit autoimmune, juga obat contoh obat : Antalgin dan sulfonamide
10. REAKSI LEUKEMOID
Leukositosis reaktif yang bukan proses keganasan (Benigna) dengan sel-sel leukosit belum matang dan matang yang memasuki sirkulasi dalam jumlah berlebihan.
2. Kelainan pada sel Eritrosit
Kelainan Sel Eritrosit
Kelainan
Eritrosit Dapat Digolongkan Menjadi:
1.
Kelainan Berdasarkan Ukuran Eritrosit
Ukuran normal eritrosit antara 6,2 – 8,2 Nm
(normosit)
Kelainan berdasarkan ukuran:
a.
Makrosit
Ukuran
eritrosit yang lebih dari 8,2 Nm terjadi karena pematangan inti eritrosit
terganggu, dijumpai pada defisiensi vitamin B₁₂ atau
asam folat. Penyebab lainnya adalahkarena rangsangan eritropoietin yang
berakibat meningkatkatnya sintesa hemoglobin dan meningkatkan pelepasan
retikulosit kedalam sirkulasi darah. Sel ini didapatkan pada anemia
megaloblastik, penyakit hati menahun berupa thin macrocytes dan pada keadaan
dengan retikulositosis, seperti anemia hemolitik atau anemia paska pendarahan.
b.
Mikrosit
Ukuran
eritrosit yang kurang dari 6,2 Nm. Terjadinya karena menurunnya sintesa
hemoglobin yang disebabkan defisiensi besi, defeksintesa globulin, atau
kelainan mitokondria yang mempengaruhi unsure hem dalam molekul hemoglobin. Sel
ini didapatkan pada anemia hemolitik, anemia megaloblastik, dan pada anemia
defisiensi besi.
c.
Anisositosis
Pada
kelainan ini tidak ditemukan suatu kelainan hematologic yang spesifik, keadaan
ini ditandai dengan adanya eritrosit dengan ukuran yang tidak sama besar dalam
sediaan apusan darah tepi (bermacam-macam ukuran). Sel ini didapatkan pada
anemia mikrositik yang ada bersamaan anemia makrositik seperti pada anemia
gizi.
2.
Kelainan Berdasarkan Warna Eritrosit
a.
Hipokromia
Penurunan
warna eritrosit yaitu peningkatan diameter central pallor melebihi normal
sehingga tampak lebih pucat. Terjadi pada anemia defisiensi besi, anemia
sideroblastik, thallasemia dan pada infeksi menahun.
b.
Hiperkromia
Warna
tampak lebih tua biasanya jarang digunakan untuk menggambarkan ADT.
c.
Anisokromasia
Adanya
peningkatan variabillitas warna dari hipokrom dan normokrom. Anisokromasia
umumnya menunjukkan adanya perubahan kondisi seperti kekurangan zat besi dan
anemia penyakit kronis.
d.
Polikromasia
Eritrosit
berwarna merah muda sampai biru. Terjadi pada anemia hemolitik, dan hemopoeisis
ekstrameduler.
3.
Kelainan Berdasarkan Bentuk Eritrosit
a.
Ovalosit
Eritrosit
yang berbentuk lonjong . Evalosit memiliki sel dengan sumbu panjang kurang dari
dua kali sumbu pendek. Evalosit ditemukan dengan kemungkinan bahwa pasien
menderita kelainan yang diturunkan yang mempengaruhi sitoskelekton eritrosit
misalnya ovalositosis herediter.
b.
Sferosit
Sel
yang berbentuk bulat atau mendekati bulat. Sferosit merupakan sel yang telah
kehilangan sitosol yang setara. Karena kelainan dari sitoskelekton dan membran
eritrosit.
c.
Schistocyte
Merupakan
fragmen eritrosit berukuran kecil dan bentuknya tak teratur, berwarna lebih tua.
Terjadi pada anemia hemolitik karena combusco reaksi penolakan pada
transplantasi ginjal.
d.
Teardrop cells (dacroytes)
Berbentuk
seperti buah pir. Terjadi ketika ada fibrosis sumsum tulang atau
diseritropoesis berat dan juga dibeberapa anemia hemolitik, anemia
megaloblastik, thalasemia mayor, myelofibrosi idiopati karena metastatis
karsinoma atau infiltrasi myelofibrosis sumsum tulang lainnya.
e.
Blister cells
Eritrosit
yang terdapat lepuhan satu atau lebih berupa vakuola yang mudah pecah, bila
pecah sel tersebut bisa menjadi keratosit dan fragmentosit. Terjadi pada anemia
hemolitik mikroangiopati.
f.
Acantocyte / Burr cells
Eritrosit
mempunyai tonjolan satu atau lebih pada membrane dinding sel kaku.
Terdapat duri-duri di permukaan membrane yang ukurannya bervariasi dan
menyebabkan sensitif terhadap pengaruh dari dalam maupun luar sel. Terjadi pada
sirosis hati yang disertai anemia hemolitik, hemangioma hati, hepatitis pada
neonatal.
g.
Sickle cells (Drepanocytes)
Eritrosit
yang berbentuk sabit. Terjadi pada reaksi transfusi, sferositosis congenital,
anemia sel sickle, anemia hemolitik.
h.
Stomatocyte
Eritrosit
bentuk central pallor seperti mulut. Tarjadi pada alkoholisme akut, sirosis
alkoholik, defisiensi glutsthione, sferosis herediter, nukleosis infeksiosa,
keganasan, thallasemia.
i.
Target cells
Eritrosit
yang bentuknya seperti tembak atau topi orang meksiko. Terjadi pada
hemogfobinopati, anemia hemolitika, penyakit hati.
4.
Kelainan Berdasarkan Benda Intraselular
Eritrosit
a.
Basophilic stipping
Suatu
granula berbentuk ramping / bulat, berwarna biru tua. Sel ini sulit ditemukan
karena distribusinya jarang.
b.
Kristal
Bentuk
batang lurus atau bengkok, mengandung pollimer rantai beta Hb A, dengan pewarnaan
brilliant cresyl blue yang nampak berwarna biru.
c.
Heinz bodies
Benda
inklusi berukuran 0,2 -22,0 Nm. Dapat dilihat dengan pewarnaan crystal violet /
brillian cresyl blue.
d.
Howell-jouy bodies
Bentuk
bulat, berwarna biru tua atau ungu, jumlahnya satu atau dua mengandung DNA.
Karena percepatan atau abnormalitas eritropoeisis. Terjadi pada anemia
hemolitik, post operasi, atrofi lien.
e.
Pappenheimer bodies
Berupa
bintik, warna ungu dengan pewarnaan wright. Dijumpai pada hiposplenisme, anemia
hemolitika.
f. Eritrosit berinti (“Nucleated
red cell”)
Eritrosit muda bentuk
metarubrisit. Adanya inti darah tepi disebut “normoblastemia”. Ditemukan pada:
- Perdarahan
mendadak dengan sumsum tulang meningkat
- Penyakit
hemolitik pada anak
- Kelemahan
jantung kongestif
- Anemia
megaloblastik
- Metastase
karsinoma pada tulang
- Leuko-eritroblastik
anemia
- Leukemia
- Anemia
megaloblastik
- Hipoksia
- Aspeni
g.
Polikromatofilik
Eritrosit muda yang mengambil zat warna asam dan basa karena RNA, ribosom dan hemoglobin. Bila diwarnai dengan pulasan supravital sel ini retikulosit.
Eritrosit muda yang mengambil zat warna asam dan basa karena RNA, ribosom dan hemoglobin. Bila diwarnai dengan pulasan supravital sel ini retikulosit.
5.
Kelainan Eritrosit Lainnya
a.
Polisitemia
Peningkatan
jumlah sel darah merah dalam sirkulasi.
·
Polisitemia Relatif
Peningkatan
konsentrasi sel darah merah tetapi tidak disertai peningkatan jumlah masa
total sel darah merah (karena dehidrasi dan hemokonsentrasi)
·
Polisitemia Vera (Primer)
Peningkatan
sel darah merah disertai peningkatan masa total sel darah merah (akibat
hiperaktivitas produksi sel darah merah oleh sumsum tulang)
·
Polisitemia Sekunder
Merupakan
polisitemia fisiologi (normal) karena merupakan respon terhadap hipoksia
b.
Hiperbilirubinemia
Merupakan
peningkatan bilirubin darah yang berlebihan ditandai dengan terjadinya ikterus,
hal ini dapat diakibatkan karena
·
Peningkatan penghancuran eritrosit
·
Sumbatan saluran empedu
c.
Hemofilia
Penyakit
keturunan berupa darah yang keluar dari pembuluh darah yang tidak dapat membeku
d.
Talasemia
Penyakit
yang di tandai dengan bentuk sel darah
merah yang tidak beraturan. Akibatnya, daya ikat terhadap oksigen dan karbon
dioksida kurang. Ini merupakan penyakit keturunan.
e.
Anemia
Kekurangan
sel darah merah yang dapat disebabkan karena hilangnya darah yang terlalu cepat
atau produksi sel darah merah yang terlalu lambat
Macam-Macam Anemia:
·
Anemia Hemoragis
Anemia
akibat kehilangan darah secara berlebihan. Secara normal cairan plasma yg
hilang akan diganti dalam waktu 1-3 hari namun dengan konsentrasi sel darah
merah yang tetap rendah.Sel darah merah akan kembali normal dalam waktu 3-6
minggu.
·
Anemia Aplastika
Sumsum
tulang yang tidak berfungsi sehingga produksi sel darah merah terhambat. Dapat
dikarenakan oleh radiasi sinar gamma (bom atom), sinar X yang berlebihan, bahan2 kimia
tertentu, obat2an atau pada orang-orang dengan keganasan.
·
Anemia
Megaloblasitik
Vitamin
B12, asam folat dan faktor intrinsik(terdapat pd mukosa lambung) merupakan
faktor2 yang berpengaruh terhadap pembentukan sel darah merah.
Bila salah satu faktor di atas tidak ada maka produksi eritroblas dalam sumsum
tulang akan bermasalah. Akibatnya sel darah tumbuh terlampau besar dengan
bentuk yang aneh, memiliki membran yg rapuh dan mudah pecah.. ciri2 ini
disebut sebagai Megaloblas. Dapat terjadi pada: Atropi mukosa lambung (faktor
intrinsik terganggu), gastrektomi total (hilangnya faktor intrinsik) dan sariawan
usus (absorbsi asam folat dan B12 berkurang)
·
Anemia Hemolitik
Sel
darah merah yang abnormal ditandai dengan rapuhnya sel dan masa hidup yg pendek
(biasanya ada faktor keturunan)
Contoh
: Sferositosis, sel darah merah kecil, bentuk sferis, tidak mempunyai struktur
bikonkaf yg elastis (mudah sobek), anemia sel sabit, 0,3-10 % orang hitam di
Afrika Barat dan Amerika sel-selnya mengandung tipe Hb yg abnormal (HbS), bila
terpapar dengan O2 kadar rendah maka Hb akan mengendap menjadi kristal-kristal panjang
di dalam sel darah merah.. sehingga sel darah merah menjadi lebih panjang dan
berbentuk mirip seperti bulan sabit. Endapan Hb merusak membran sel. Tekanan O2 jaringan
yg rendah menghasilkan bentuk sabit dan mudah sobek. Penurunan tekanan O2 lebih
lanjut membentuk sel darah semakin sabit dan penghancuran sel darah merah
meningkat hebat, eritroblastosis Fetalis, Ibu dengan Rh(-) yang
memiliki janin Rh(+). Pada saat kehamilah pertama, setelah ibu terpapar darah
janin, maka ibu secara otomatis akan membentuk anti bodi terhadap Rh(+),
sehingga pada kehamilan yang ke dua anti Rh ibu akan menghancurkan darah bayi,
dan bayi akan mengalami anemia yg hebat hingga meninggal. Hemolisis karena
malaria atau reaksi dg obat-obatan
·
Nutrional Anemia
Anemia
defisiensi besi (Fe), Anemia defisiensi asam folat (akibat kekurangan asupan
atau gangguan absorbsi GI track)
·
Anemia Pernisiosa
Vitamin
B12 penting untuk sintesa DNA yang berperan dalam penggandaan dan pematangan
sel. Faktor intrinsik berikatan dengan B12 sebagai transport khusus absorbsi
B12 dari usus. Anemia pernisiosa bukan karena kekurangan Intake B12 melainkan
karena defisiensi faktor intrinsik yg mengakibatkan absorbsi B12 terganggu.
·
Renal Anemia
Terjadi
karena sekresi eritropoietin dari ginjal berkurang akibat penyakit ginjal.3. Kelainan pada sel Trombosit
Kelainan Trombosit ,- Kebanyakan kasus perdarahan yang datang instalasi gawat darurat adalah disebabkan oleh trauma, yang menghasilkan luka, laserasi, atau lesi pada struktur lain, dengan kondisi homestasis pasien dalam keadaan normal. Sebaliknya,
ada beberapa keadaan perdarahan yang terjadi beberapa jam setelah terjadinya trauma atau perdalah dalam jaringan atau sendi memberikan kesan terdapat gangguan pada proses perdarahan. Informasi mengenai penyakit dahulu pasien menyangkut gangguan perdarahan congenital, riwayat penyakit keluarga, hal ini memberikan kesan terdapat kelainan pada sistem homeostasis pasien, umunya disebabkan oleh kelainan hati atau mengkomsumsi obat-obatan yang merusak fungsi trombosit.
Kelainan pada trombosit
sering di temukan
saat persiapan pre
operasi berupa disfungsi
trombosit atau jumlah
trombosit rendah (trombositopenia). Nilai trombosit
di bawah atau
sama 50.000/mm 3 tidak
meningkatkan kejadian perdarahan
saat operasi jika
fungsi dari trombosit
normal; tetapi trombosit yang
normal dengan disfungsi trombosit dapat meningkatkan kejadian perdarahan
saat operasi. Oleh karena itu persiapan perioperatif harus benar
benar mengetahui apakah terdapat kelainan pada thrombosit dan segera di
atasi
untuk menghindari perdarahan saat operasi (4,5). Nilai normal
trombosit antara 150.000
sampai 400.000/mm 3. Nilai trombosit di bawah 150.000mm/3
didefinisikan sebagai
trombositopenia. Perdarahan spontan
akibat nilai trombosit
yang rendah jarang ditemukan
sampai nilai trombosit
> 20.000 mm/3.
Untuk homeostasis pembedahan nilai trombosit antara
50.000 mm/3 sampai 100.000
mm/3 masih adekuaut selama
fungsi trombosit baik.
Keputusan untuk
pemberian tranfusi trombosit pada
perioperatif tergantung dari
kasus dan resiko
terjadinya perdarahan selama perdarahan atau pada pasien dengan gangguan
homeostasis. Pada pasien dengan hitung trombosit
pada garis batas,
mengetahui waktu masa
perdarahan sangat bermanfaat selama persiapan perioperatif (5).
Trombositopenia merupakan keadaan
yang disebabkan oleh
sequstrasi trombosit, penurunan produksi trombosit atau destruksi
trombosit yang sangat cepat.
Dalam banyak kasus, gangguan trombosit diyakini disebabkan
oleh gangguan autoimun (serangan, untuk alasan yang tidak diketahui, sistem
kekebalan tubuh terhadap sel sehat sendiri). Dalam hal ini, trombosit
dihancurkan sebelum waktunya karena beredar darah. Sebuah thrombocytopenic
purpura gangguan autoimun umum disebut idiopatik (ITP), dan trombosit cepat
hancur dalam eritematosus sistemik lupus, juga gangguan autoimun, diantaranya :
- Beberapa kanker, leukemia atau sumsum tulang menginvasi dapat menyebabkan penurunan jumlah trombosit dan fungsi.
- Sejumlah infeksi, termasuk rubella, mononucleosis, infeksi darah bakteri, malaria, hepatitis, tuberkulosis (TBC) dan HIV (HIV), bisa menyebabkan gangguan trombosit.
- Beberapa kelas obat yang mampu menyebabkan gangguan trombosit untuk persentase kecil orang. Beberapa obat ini sering digunakan, termasuk aspirin, ibuprofen dan antibiotik seperti penisilin. Lainnya termasuk kina dan quinidine (digunakan untuk mengobati malaria) dan penggunaan narkoba suntikan.
- Dalam anemia aplastik, langka tapi sangat serius kondisi, produksi trombosit (dan sel lain dalam darah) di sumsum tulang sebagian besar ditekan. Hal ini mungkin disebabkan oleh radiasi atau kemoterapi obat (untuk kanker), senyawa emas (digunakan untuk mengobati radang sendi), antibiotik kloramfenikol atau paparan asap pelarut organik, termasuk benzene dan lem. Juga kadang-kadang terjadi hal pada orang dengan hepatitis akut, tetapi dalam banyak kasus menyebabkan tidak dapat ditentukan.
- Alkoholisme kronis atau kekurangan vitamin B tertentu dapat menyebabkan gangguan trombosit.
- Transfusi darah masif dapat menyebabkan kekurangan sementara trombosit, yang dapat diperburuk oleh reaksi kekebalan tubuh untuk donor darah yang mengarah ke penghancuran trombosit.
- Beberapa cacat genetik dapat menyebabkan gangguan platelet kongenital.
- Koagulasi intravaskular (DIC) melibatkan kelainan fungsi platelet dan penurunan jumlah trombosit secara langsung.
- Kemoterapi dan radioterapi untuk kanker atau leukemia dapat menghancurkan platelet